DOKUMEN
ANALISA KEBENCANAAN PARTISIPATIF DESA TEGAL MAJA
( Participatory Capacity And Vulnerability Analysis )
2012
BDR
( Building Deepening Resillience In Eastern Indonesia )
DESA TEGAL MAJA KECAMATAN TANJUNG
KABUPATEN LOMBOK UTARA
BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan
Metode
Ruang Lingkup
Partisipan
Dafatr Istilah
BAB II. GAMABARAN UMUM DESA
2.1. Geogarafi
2.2. Demografi
2.3. Sosial Ekonomi
2.4. Dll
BAB III. KAJIAN RESIKO PARTISIPAN
3.1. LONGSOR
3.1.1. Karakter Ancaman
3.1.2. Kerentanan
3.1.3. Kapasitas
3.1.4. Kajian Tingkat Resiko
3.2. BANJIR
3.2.1. Karakter Ancaman
3.2.2. Kerentanan
3.2.3. Kapasitas
3.2.4 Kajian Tingkat Resiko
BAB. IV RENCANA AKSI
BAB. V. KESIMPULAN
LAMPIRAN
Alat PRA
Data-data
TSBD
Proses (Foto)
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Desa Tegal Maja adalah merupakan Desa yang berada di Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara , dan merupakan salah satu Desa dari Tujuh desa yang berada di Kecamatan Tanjung dengan jarak ± 3 km dari Pusat Pemeritahan Kecamatan dan ± 3 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Lombok Utara.
Desa Tegal Maja memiliki luas wilayah ± 12,28 km2, Desa Tegal Maja terdiri atas 11 dusun, terdiri dari Dusun Lendag Bila,Dusun Tenagga,Dusun Semapak , Dusun Sumbur Duyung,Dusun Tebanyak, Dusun Tuban, Dusun Medain, Dusun Panasan Daya, Dusun Leong Barat, Dusun Leong Tegah, Dusun Leong Timur.
Kondisi geografi wilayah Desa Tegal Maja , yang sebagian besar berbukit bukit dan dengan kemiringan sekitar 70 Derajat, dan sekitar 500 diatas permukaan laut, merupakan daerah yang memiliki kondisi wilayah yang berbeda beda satu sama lain,sekitar 9 dusun diantaranya Leong Barat, Leong Tengah dan Leong Timur yang berada didaerah hulu atau bertempat tinggal dikelerengan bukit sebelah selatan adalah dusun yang hampir 99% warganya adalah muslim, semntara dusun tuban tebanyak, panasan daya,dusun medain, dusun sumur duyung dan dusun sempak hampir sama dengan leong cuman tidak berbatasan dengan kawasan hutan dan temapat tinggal masyarakat hampir diperbukitan dan warga tersebut juga hampir 80% umat budha,sementara ancaman dusun tersebut adalah longsor.
Dua dusun berikutnya dalah dusun tenagga dan lendang bila terletak didataran sehingga terdampak oleh ancaman bajir, dan memiliki persawahan yang berdekatan dengan kali sokong yang berbatasan dengan desa sokong, dan berada di hilir atau sebelah selatan dan berbatasan dengan desa tanjung.
Dengan georafis wilayah berbukit bukit tentunya topografi wilayah dusun yang berada dihulu atau yang mendiami wilyah perbukitan sebagian masyarakatnya tidak bisa dilepaskan atas ketergantungannya dari alam sekitarnya yang merupakan daerah kawasan hutan dan kawasan perbukitan yang oleh masyarakat dikelola untuk ditanami dengan tanaman perkebunan, tentunya sebagai usaha untuk pengelolaan lahan perkebunan , kawasan hutan telah dibuka oleh sebagian masyarakatnya untuk perluasan lahan perkebunan, desa tegal maja perbatasan dengan desa lain dibatasi oleh sunggai atau kali dan desa tegal maja tidak memiliki wilyah pantai.
Dengan kondisi alam seperti diatas, Desa Tegal Maja memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi terhadap ancaman bahaya bencana, apalagi kalau dilihat dari sejarah kejadian bencana yang pernah terjadi sekitar tahun 1960, 1970, 1993,1995 dan tahun 1998, pernah terjadi banjir dan longsor yang mengakibatkan tertimbun dan tegerusnya lahan pertanian masyarakat serta mengakibatkan tertibun dan rusaknya sarana air bersih masyarakat .
Dari kejadian ancaman bahaya longsor dan banjir, upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan Pemerintah Desa masih pada upaya tanggap darurat, masyarakat hanya melakukan tindakan melakukan pengungsian dan tindakan sementara secra gotong royong, tindakan kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko terhadap ancaman longsor dan banjir belum dapat di implementasikan dalam perencanaan pembangunan di Desa Tegal Maja sebagai bentuk Peng-integrasian Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim dalam pembangunan yang tertuang dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa ( MUSRENBANG Desa ) dan didorong masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa ( RPJMDes ) selama 5 ( lima ) tahun atau diimplementasikan dalam RKPDes ( Rencana Kerja Pembangunan Desa ) tahunan.
Memaparkan alasan-alasan disusunnya dokumen
Potensi bencana (sejarah kejadian bencana dan kondisi alam)
secara social mestinya ada kesiapan masyarakat dan pemerintah dalam penanggulangan bencana.
Tujuan
Memetakan ancaman, risiko, kerentanan bencana dan kapasitas penanggulangan bencana desa.
Sebagai acuan bagi masyarakat dan pemerintah desa dalam mengembangkan penanggulangan bencana di desa.
Metode
Metode dan teknik pendalaman PCVAdipakai untuk menyajikan informasi, pengetahuan dan fakta. Dalam pendalaman PCVA pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat ini, penggunaan metode didasarkan pada beberapa pertimbangan antara lain;
Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
Kemampuan fasilitator
Kemampuan partisipan Pendalaman
Jumlah partisipan
Media yang tersedia
Iklim dan suhu
Selain itu, pilihan metode dalam pendalaman PCVA ini, juga mempertimbangkan kembali apa yang diungkapkan oleh Confusius, seorang filsuf Cina yaitu; Saya dengar, saya lupa; saya lihat, saya ingat, saya kerjakan maka saya paham. Berdasarkan pertimbangan diatas, maka metode yang dipakai dalam pendalaman PCVA pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat ini,antara lain;
Ceramah
Ceramah merupakan tehnik yang menggunakan komunikasi satu arah. Dalam pendalaman PCVApengurangan risiko bencana. Metode ini digunakan untuk memberikan gambaran dan pengetahuan yang utuh mengenai ancaman - ancaman yang mungkin terjadi di desa Tegal Maja Diskusi Kelompok
Metode diskusi kelompok digunakan dalam pendalaman PCVA ini untuk memberikan ruang dan wadah saling bertukar gagasan dan sharing pengalaman antara peserta dengan peserta, peserta dengan fasilitator dalam rangka pencapaian tujuan Pendalaman.
Diskusi Pleno
Hasil diskusi kelompok dipresentasikan oleh salah satu kelompok dan dibahas oleh kelompok lain, diperdebatkan dan ditanggapi oleh kelompok yang presentasi.
Permainan
Pada setiap pendalaman PCVA yang cukup lama, seringkali ada kelelahan dan kejenuhan diantara partisipan Dalam pendalaman PCVA ini, alat pengusir kejenuhan adalah permainan dan ice breaking. Namun demikian, setiap permainan harus dimaknai dalam konteks dan isu pengurangan risiko bencana. Permainan selain untuk penyegar suasana, bermanfaat juga untuk menyederhanakan masalah dan isu yang dibahas dalam Pendalaman PCVA.
Ruang Lingkup
Lingkup kajian mencakup satu desa dengan focus pada wilayah yang terpapar. Secara holistik, seluruh aset penghidupan masyarakat dianalisis keterpengaruhannya terhadap kebencanaan. Proses kajian menggunakan pendekatan multipihak dimana diupayakan seluruh unsur masyarakat desa secara representatif terlibat. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam kajian ini memungkinkan partisipasi aktif warga masyarakat yang dibingkai dalam PCVA (Participatory Capacity and Vulnerability Analysis). Disamping data kualitatif kajian ini juga menggunakan data kuantitatif.
Partisipan
Dalam kegiatan ini di hadiri dari berbagai unsure yang ada di desa tegal maja mulai dari pemdes. Lembaga desa, TSBD, Forum PRB, tokoh masyarakat, dan para pihak yang dianggap memiliki informasi tentang kebencanaan yang ada di desa tegal maja.
Type equation here.
Dafatr Istilah
BAB II. GAMABARAN UMUM DESA
Desa Tegal Maja adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Desa Tanjung
Sebaleh Selatan : Hutan Lindung
Sebelah Barat : Desa Tegal Maja
Sebelah Timur : Desa Sokong
Desa Tegal Maja terbagi dalam 11 dusun yaitu :
Lendang Bila
Sempak
Median
Leong tengah
Leong timur
Leong Barat
Tebanyak
Sumur Duyung
Penasan Daya
Tuban
Tenangga
Dari sebelas dusun yang ada sebagian besar memeluk agama budha sekitar 85% dan sisanya memeluk agama islam dan memndiami wilayah Leong Barat, Timur dan Tengah.
SDA
Luas desa : 2376 Ha
Sawah irigasi ½ teknis : 12 ha
Tegal/lading : 1.425 Ha
Pemukiman : 49 ha
Tanah perekebunan : 1.425 Ha
Hutan Lindung : 1.014 Ha
Hutan Adat : 12 ha
Tipologi : Desa sekitar hutan
Orbitasi :
Jarak ke ibukota kecamatan : 2,5 Km
Jarak ke ibukota Kabupaten : 2,5 Km
Iklim :
Curah hujan : 2.500 - 3.000 mm
Jumlah bulan hujan : 6 bulan
Suhu rata-rata : 37 0C
Tinggi tempat : 500 mdpl
Bentang wilayah : berbukit
Pertanian :
Luas tanam menurut komoditas :
Kacang tanah : 9 Ha
Produksi : 1,5 - 2 ton/Ha
Ubi Kayu : 10 Ha
Produksi : 1 - 1,5 ton/ha
Pemilikan lahan pertanian tanaman pangan :
Jumlah rumah tangga memiliki lahan pertanian : 963 RTP
Tidk memiliki : 1.024 RTP
Memiliki kurang dari 0,5 ha : 671 RTP
Memiliki 0,5 - 1 ha : 270 RTP
Memiliki lebih dari 1 ha : 22 RTP
Jumlah total RTP : 963 RTP
Jenis komoditas buah-buahan yang dibudidayakan
Mangga : 17 ha Produksi : 1 ton/ha
Rambutan : 1,5 ha Produksi : 1,5 ton/ha
Papaya : 3 ha Produksi : 1,5 ton/ha
Durian : 2 ha Produksi : 1,5 ton/ha
Pisang : 20 ha Produksi : 1 ton/ha
Jenis dan kesuburan tanah
Warna tanah sebagian besar : hitam
Tekstur : pasiran
Perkebunan
Luas dan hasil menurut jenis
Kelapa : 1.425 ha Produksi : 3 kw/ha
Kopi : 35 ha Produksi : 2 kw / ha
Cengkeh : 15 ha Produksi : 1,5 kw/ha
Cokelat : 40 ha Produksi : 1,5 kw/ha
Pinang : 15 ha Produski : 2 kw/ha
Mete : 125 ha Produksi : 2,5 kw/ha
Vanili : 35 ha Produksi : 1,5 kw/ha
Pemilikan lahan perkebunan
Jumlah rumah tangga memiliki tanah perkebunan : 963 RTP
Tidak memiliki : 1.024 RTP
Memiliki kurang dari 0,5 ha : 587 RTP
Memiliki 0,5 - 1 ha : 355 RTP
Memiliki lebih dari 1 ha : 21 RTP
Kehutanan
Luas menurut pemilikan
Milik Negara : 1.014 ha
Milik adat/masyarakat adat : 12 ha
Total : 1.026 ha
Kondisi hutan
Hutan lindung : 1.014 ha baik Rusak : 253 ha
Peternakan :
Jenis populasi
Sapi : 670 ekor
Babi : 1.425 ekor
Ayam : 4.200 ekor
Kuda : 8 ekor
Kambing : 135 ekor
Kesediaan hijauan makanan ternak
Luas tanaman pakan ternak : 5 ha
Sumber daya air
Potensi air irigasi : ada
Air minum
Mata air : 25 pemanfaat : 875 KK
Sumur gali : 15 jumlah rusak : 15
Sumur pompa : 30 jumlah rusak : 30
PAM : 1 Pemanfaat : 160 KK
Pipa : 12 Pemanfaat : 1.034 KK
Sungai
Kali Serawan
Kali Tebanyak
Kali Sokong
Kondisi : terjadi pendangkalan
SDM
Jumlah Penduduk :
NO DUSUN JUMLAH PENDUDUK LANSIA BALITA BUMIL DIFABLE
KK LK PR LK PR LK PR LK PR
1 Lendang Bila 232 284 299 19 19 4
2 Sempak 195 260 271 12 21 3
3 Median 212 279 303 13 19 1
4 Leong tengah 252 233 285 20 22 1
5 Leong timur 240 262 265 19 23 3
6 Leong Barat 342 407 437 24 33 7
7 Tebanyak 344 434 451 43 39 4
8 Sumur Duyung 102 168 138 14 17 6
9 Penasan Daya 90 122 129 7 14 -
10 Tuban 123 226 226 20 31 3
11 Tenangga 106 174 174 14 11 5
JUMLAH 2.280 2.849 2.978 205 239 38
Menurut umur :
NO DUSUN BALITA ANAK REMAJA Usia produktif Lansia
0 - 5 6 - 12 13 - 16 17 - 29 30 - 58 58 keatas
1 Lendang Bila 103 25
2 Sempak 38 61 19
3 Median 63 21
4 Leong tengah 45 44 11
5 Leong timur 50 79 22
6 Leong Barat 72 85 17
7 Tebanyak 101 88 45
8 Sumur Duyung 45 32 10
9 Penasan Daya 29 35 12
10 Tuban 43 48 12
11 Tenangga 23 30 21
Jumlah 431 638 350 1723 2858 392
Menurut Pendidikan :
NO DUSUN Belum sekolah Tidak pernah sekolah Pernah sekolah tidak tamat Tamat SD SLTP SLTA D 1 D2 D3 S1 S2 S3
7 - 45
1 Lendang Bila
2 Sempak
3 Median
4 Leong Tengah
5 Leong Timur
6 Leong Barat
7 Tebanyak
8 Sumur Duyung
9 Penasan Daya
10 Tuban
11 Tenangga
Jumlah 80 61 17 76 163 79 8 12 5 21 4 -
Mata pencaharian pokok
Petani : 963
Buruh tani : 1.024
Buruh/swasta : 30
PNS : 47
Pengrajin : 59
Pedagang : 40
Peternak : 476
Wiraswata : 80
Montir : 3
Cacat Fisik
Tuna rungu : 1
Tuna wicara : 3
Lumpuh : 70
Sumbing : 2
Tenaga Kerja
Penduduk usia 15-55 tahun : 3.957
Penduduk usia 15 - 55 tahun Ibu rumah tangga : 958
Penduduk usia 15 - 55 tahun masih sekolah : 643
Tenaga kerja : 2.356
Lembaga pemerintah
Pemerintah desa
Jumlah aparat : 8 orang
Jumlah dusun : 11
Jumlah RT : 50
BPD : 11
PKK : 1
Jumlah anggota : 24 orang
Organisasi pemuda : 1
Jumlah anggota : 45
Karang taruna : 1
Jumlah anggota : 35
Organisasi profesi : 15
Jumlah anggota : 963
LPM : 1
Jumlah pengurus : 5
Gapoktan : 1
Kelompok tani : 11
Lembaga ekonomi
Koperasi : 1 unit
Jumlah anggota : 125
Industry bahan bangunan : 4 unit
Jumlah tenaga kerja : 8
Warung kelontong : 35 unit
Jumlah tenaga kerja : 70
KSP : 6 unit
Jumlah anggota : 300
Lembaga adat : lembaga adat orong empak panasan (OEP)
INFRASTRUKTUR
Jalan desa :
Jalan aspal : 2,5 km (rusak)
Jalan tanah : 13,5 km (rusak)
Jalan antar desa : 2,5 km (rusak)
Jembatan beton : 4 unit
Pangkalan ojek : 6 unit
Jumlah anggota : 150
Jumlah mata air : 25 unit
Jumlah MCK : 120 unit
Jumlah perpipaan : 13 unit
Pengguna mata air : 875 orang
Pengguna MCK : 120 orang
Pengguna perpipaan : 2.725 orang
Pengguna PAM : 160 orang
Panjang saluran tersier : 500 m (rusak)
Masjid : 8 buah
Musholla : 4 buah
Vihara : 8 buah
Lapangan bulu tangkis : 8 buah
Lapangan voly : 2 buah
Posyandu : 11 buah
Jumlah paramedic : 3 orang
Dukun terlatih : 10 orang
SD : 4 buah
SMP : 1 buah
EKONOMI
Luas tanaman padi : 12 ha
Produksi : Rp. 1.760.000,-
Biaya pupuk : Rp. 900.000,-
Biaya bibit : Rp. 300.000,-
Biaya obat : Rp. 150.000,-
Luas tanaman kacang tanah : 12 ha
Produksi : 14.000.000,-
Biaya bibit : 1.700.000,-
Biaya obat : 100.000,-
Pendapatan per kapita
Jumlah RTP : 963 RT
Jumlah rumah tangga buruh tani : 1.024 RT
Jumlah rumah tangga industry : 1.987 orang
Jumlah rumah tangga buruh : 1.015 orang
Kemiskinan
KK Miskin : 1.987 Keluarga
Prasejahter : 1.876 Keluarga
Sejahtera 1 : 86
Sejahtera 2 : 25
Penguasaan asset ekonomi
Tidak memiliki tanah : 1.024 orang
Memiliki tanah kurang dari 0,1 ha : 102 orang
Memiliki tanah anatara 0,1 - 0,2 ha : 93 orang
Memiliki tanah antara 0,21-0,3 ha : 97 orang
Memiliki tanah antara 0,31-0,4 ha : 135 orang
Memiliki tanah antara 0,41-0,5 ha : 226 orang
Memiliki tanah antara 0,51-0,6 ha : 73 orang
Memiliki tanah antara 0,61-0,7 ha : 65 orang
Memiliki tanah antara 0,71-0,8 ha : 57 orang
Memiliki tanah antara 0,81-0,9 ha : 53 orang
Memiliki tanah antara 0,91-1,0 ha : 41 orang
Memiliki tanah lebih dari 1,0 ha : 30 orang
Asset sarana transfortasi umum
Ojek : 150 orang
Cidomo : 3 orang
Memiliki pabrik pengolahan hasil pertanian : 12 orang
Rumah menurut dinding :
Rumah tembok : 1027 keluarga
Kayu : 3 keluarga
Bamboo : 124 keluarga
Rumah menurut lantai
Keramik : 633 keluarga
Semen : 920 keluarga
Kayu : 54 keluarga
Tanah : 380 keluarga
Pemilikian barang berharga :
jumlah kepala keluarga : 1987 keluarga
Jumlah keluarga yang mmiliki TV : 165 keluarga
Jumlah jeluarga memiliki sepeda motor : 120 keluarga
Jumlah keluarga memiliki mobil : 1 keluarga
Jumlah keluarga memiliki ternak besar : 425 keluarga
Jumlah keluarga memiliki ternak kecil : 1260 keluarga
Jumlah keluarga memiliki mesin jahit : 9 keluarga
Mata pencaharian :
Buruh tani : 1024 orang
Petani : 963 orang
Pedagang/pengusaha : 30 orang
Pengerajin : 58 orang
PNS : 45 orang
Polri : 5 orang
Penjahit : 9 orang
Montir : 4 orang
Tukang kayu : 25 orang
Guru swasta : 20 orang
SOSIAL BUDAYA
PENDIDIKAN MASYARAKAT :
Jumlah penduduk buta huruf : 1364 orang
Jumlah penduduk tidak tamat SD : 257 orang
Jumlah penduduk tamat SD/sederajat : 163 orang
Jumlah penduduk tamat SLTP/sederajat : 176 orang
Jumlah penduduk tamat SLTA/sederajat : 80 orang
Jumlahpenduduk tamat S1 : 21 orang
Jumlah penduduk tamat S2 : 4 orang
WAJIB BELAJAR 9 TAHUN :
Jumlah penduduk usia 7-15 tahun : 652 orang
Jumlah penduduk usia 7-15 tahun yang masih sekolah : 652 orang
Jumlah penduduk usia 7-15 tahun yang tidak sekolah : 8 orang
KESEHATAN MASYARAKAT
Jumlah bayi lahir pada tahun ini : 15 0rang
Jumlah bayi meninggal : 2 orang
Jumlah balita imunisasi polio 3 : 82 anak
Jumlah balita imunisasi DPT 1 : 119 anak
Jumlah balita diimunisasi : 201 anak
Jumlah RT pelanggan PAM : 160 RT
Jumlah RT menggunakan perpipaan : 3.241 RT
Jumlah RT menggunakan air sungai : 237 RT
Total : 3.638 RT
Perilaku hidup bersih dan sehat
Jumlah RT memiliki WC : 125 orang
Jumlah RT biasa buang air besar di sungai/parit/kebun : 1.024 orang
Kebiasaan makan dalam sehari : 3 kali
Jumlah balita : 82 orang
Jumlah balita bergizi baik : 82 orang
Etos kerja penduduk
Luas desa : 2.500 ha
Luas lahan pekarangan : 49 ha
Kegiatan petani pada musim kemarau : membersihkan lahan pertanian untuk bercocok tanam pada musim penghujan
2.1. Geogarafi
2.2. Demografi
2.3. Sosial Ekonomi
2.4. Dll
BAB III. KAJIAN RESIKO PARTISIPAN
3.1. LONGSOR
Karakter ancaman longsor desa tegal maja dari penjelasan peserta dalam analisa kajian resiko asal ancaman lngsor untuk dusun leong timur berasal dari bukit roras, leong barat berasal dari perkebunan kene dan iben, dusun tuban dari hutan adat dan perkebunan, dusun tebanyak dari kebun masyarakat begitu pula dengan dusun median,sementara dusun sumur duyung dari pemukiman dan kebun masyarakat hal yang serupa juga terjadi di dusun sempak
Pemicu dari longsor yang terjadi di desa tegal maja secara umum dapat kita lihat bersama karna kesadaran masyarakat terhadap lingkungan kurang ini juga karana tegakan pohon besar sudah berkurang disertai terjadinya penebangan pohon yang ada di hutan, ditambah lagi karna kemringan serta struktur tanah yang berpasir dan gembur
3.1.1. Karakter Ancaman Longsor
Karakter Penjelasan Elemen Risiko Volume risiko
Asal ancaman
Wilayah leong timur dari bukit roras
Leong barat dari perkebunan kene dan iben
Wilayah tuban dari tanah adat dan perkebunan
Wilayah media dari perkebuan masyarakat
Wilayah tebanyak dari lahan perkebuan masyarakat
Wilay sumur duyung dari pemukiman lahan perkebuan dan jalan
Wilayah sempak dari perkebunan masyarakat Bolot bangket SDM
Meniggal
19orang
Pemicu
Kejadian Yang Terjadi Dileong Timur dan leong barat diakibatkan karna kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkunagan dengan menebang pohon dihutan secara liar dan tidak ditanami kebali
Kemiringan yang cukup tinggi dan terjal dan tegakan pohon besarberkurang
Setruktur tanah beronga dan gembur
Tanah terlalu miring dan gembur
SOSIAL
Terganggunya aktipitas masyarakt
Tidak terjadinya proses belajar mengajar
Tarnsprtasi masyarakt terganggu
Untuk semua wilayah yang
terkena dampak
136 siswa dan 14 guru
4 dusun , tenangga,
ebanyak, lendang bila dan leong barat
Daya rusak
Kuatnya arus air dari sungai
Potong-potongan kayu kebun
Metrial alam FINANSIAL
Tanaman masyarakt tertimbun dan rusak seperti :
Mente,coklat, kopi,kelapa, dan pisang
Ternak terimbun
Leong timur 2Ha
Leong barat 2 Ha
Median
Tuban
Tebanyak 2 ha
Sumur duyung 1Ha
Semapak
Tanda-tanda
Hujan lebat dan berkepanjangan
Warna air berubah coklat
Dadaunan dan sampah terbawa lebih dahulu ALAM
Terkikisnya unsure hara tanah
Sulit ditanamai
Mata air tertimbun
Kecepatan
Durasi
Sebaran dampak Leong Barat
Leong Timur
Leong tengah
Tuban
Panasan Daya
Tebanyak
Median
Sumur Duyung
Sempak FISIK
Jambatan putus
Jalan rusak dan putus
Pemukiman penduduk rusak dan tertimbun
Sekolah rusak
Temapat ibadah vihara rusak
Perpipaaan putus
1 jambat di leong timur
1 vihara
Jalan putus 1Km
1 posyandu
1 SDN
RUMAH
20 di leong timur
10 di leong barat
15 sempak
5 Sumur Duyung
3.1.2. Kerentanan longsor
Kerentanan LONGSOR
Kondisi tak aman Tekanan dinamis Akar penyebab
ALAM
Lahan kebun berada dikemiringan
Lahan kebun berada dikemiringan
Sebagian besar kebun tidak mengunakan sistem teras sering
Tanah kebun terkikis
kurangnya pemahaman mayarakat
Penglolaan kebun tidak baik dan tidakada reboisasi
Kebun berda di bawah hutan yang mulai berkurangn tegakan pohonnya
Penebangan pohon secara liar/illegal loging
Perkebunan hanya ditanamai dengan tumbuan berbuah : coklat, durian , kopi, cengkeh, pisang dll
Penegagakan hukum tidak maksimal kaitan dengan pelarangan penebangan pohon hutan.
Masih kurannya pemahaman masyarakat tentang tata kelola lahan
Sungai berda di antara perkampungan, kebun dan bukit yang kurang pohon pelindungnya
Hutan dijadikan sebagai lahan berkebun
Adanya perambasan /penebangan
Tidak ada awik2 penglolaan hutan
Belum jelasbatas hutan dan kebun masyarakt
FISIK
Rumah warga berada dibawah kebun dengan struktur tanah yang labil
Rumah waraga berada diatas dan bawah jalan
Jalan berda diantara kebun dan struktur tanah yang labil berbatu dan berpasir
Jaringan pipa air bersih terpasang dibawah bukit dan sebagaian tidak ditanam
Jambatan berda diantara dua bukit pada saluran sungai
Vihara dekat dengan bantaran kali
Tidak adanya darinase
Tidak adanya talud dan tanggul yang memadai
Jaringan perpipaan tidak disesuaikan dengan geografis wilayah
Kurangnya pendanaan baik swadaya maupun pemerintah
Sungaimenjadi sempit dan pendangkalan
Konstruksi tidak kuat dan tua
Tidak ada talud pengaman
Bangunan sudah tua
Tidak ada pendanaan dari pemerintah
Tidak ada aturan tata ruang pembangunan dan lingkungan
Tidak ada tenaga teknis perpipaan
Penglolaan tidak baik (awik2)
P3A tidak berpungsi
Pembangunan dengan perencanaan yang baik
Belum adanya dana masyarakat
EKONOMI
Laki
tanaman kebun tertimbun longsor
Hewan ternak tertimbun longsor
Perempuan
Tidak tercukupinya kebutuan pangan keluarga
Tidak adanya tempat penyimpanan hasil kebun dan sawah
Tidak adanya simpanan pangan dan ketersediaan cadangan dana
tanaman kebun tertimbun longsor
Tidak adanya lahan tempat membangun gudang penyimpanan
Belum adanya koperasi tani
Hasil penjualan tidak ditabung
Terlalu konsumtif
MANUSIA
Laki
Tempat kegiatan bertani berada di bawah bukit yang labil
Perempuan
Kegiatan perempuan lebih sering dirumah
Beban ganda sering diberikan pada perempuan
Belum adanya kesadaran tentang kelestarian lingkungan
Belum optimalnya sosilisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan dilakukan
Kegiatan hanya berorientasi pada ekonomi
Belum adanya ketrampilan tentang cara menyelamatkan diri dari bencana
Pemahaman tentang bencana masih terbatas dimiliki
Kesadaran tentang bencana masih kurang
Sosialisasi tentang tentang jalur evakuasi belum optimal dilakukan
Belum dipasangnya tanda jalur evakuasi
Belum diketahui dan disosialisasikannya Sistem Peringatan Dini
Belum adanya ketrampilan tentang cara menyelamatkan diri
Pengurus TSBD sering berganti ganti
Belum diketahui dan disosialisasikannya Sistem Peringatan Dini
SOSIAL BUDAYA
Laki
Kegiatan kebencanaan masih belum tersosialisasikan dengan baik
Keterlibatan lembaga-lembaga desa belum maksimal
Perempuan
Informasi tentang kebencanaan masing kurang memadai
Kegiatan kebencanaan belum menjadi prioritas pembangunan di desa
Sumber informasi tentang kebencanaan masih kurang
Belum terakomodir dalam perencanaan pembangunan di Desa Tegal Maja
Media penyampaian informasi tentang kebencanaan masih terbatas dan belum menjangkau masyarakat di wilayah rawan
3.1.3. Kapasitas longsor
Kemampuan menangani ancaman Karakter ancaman Kemampuan
Dibutuhkan Tersedia Kesenjangan
Mencegah Asal Penyebab
Daya Rusak
Pembuatan teras sering
Talud dan teras sering
Pengalian teras sering dan talud
Terassering saluran air
Penanaman pohon
Alat berat dari pemerintah
Pentalutan disekitar jalan
Pembuatan teras sering
Talud 1 KM
Gorong-gorong di 7 totik Pembatas atara hutan adat dan tanah kebun
Mata air
Pagar pembatas dan tembok vihara
Reboisasi
Tanaman musiman seperti kelapa,coklat,mente dll
Talud 25 M
Gorong-gorong Penataan batas hutan adat dan kebun masyarakat
Perbaikan mata air
Penghijauan
Menata memperbaiki lahan kebun yang rusak
Pembuatan pematang penahan air
Talud 975 M
Drainase 1 Km
Gorong-gorong 6 titik
Frekuensi
1 tahun sekali
Pembuatan tanggul
Gotong royong
Batu pasir
Tempat penumpukan kayu
Membanguan tanggul sepanjang aliran sungai
Frekuensi Antisipasi dan kesiapsiagaan dengan membuat sarana dan prasarana evakuasi Kepedulian masyarakat sekitar
Adanya TSBD, FPRB, Banjar,RT Dll Adanaya pelatihan tanggab darurat kaitan dengan kebencanaan
Adanya media informasi bencana
Sebaran dampak - pembuatan talud
dan drainase
Mitigasi Asal penyebab Pengalian teras sering dan talud
Terassering saluran air
Penanaman pohon
Daya rusak - memuat teresering dan talud
Frekuensi - penataan lingkungan
Sebaran dampak - memasang atau menyusun pelepah pisang disepanjang jalan yang rawan longsdor
3.1.4. Kajian Tingkat Resiko longsor
Dalam kajian tingkat resiko untuk ancaman langsor dari tingkat kerentanan utama untuk alam setruktur tanah yang miring serta berbatu dan berpasir untuk kerentanan fisik banyak ruas jalan berada dibawah bukit dan kondisi jalan yang belum permanen serta tanah yang berpasir dan berbatu, kalu kita lihat dari kerentanan utama ditingkat ekonomi sebagian lahan kebun masyarakat tertimbun longsor, sementara dari sisikerentanan untama untuk manuasianya ini karna pemahaman masyarakat yang belum memhami konsep kebencanaan dari kurangnya sosialisasi tentang kebencanaan kemasyarakat ini yang menjadi kerentanan utama untuk sosialbudaya.
Untuk melihat seberapa tingkat resiko ancaman longsor di desa tegal maja dapat kita lihat dari kapasitas utama yang dimilik diantaranya adanya gotong royong, adanya TSBD, forum PRB, kentongan,
Sementara dari tingkat resiko yang ada di untuk ancaman longsor dari hasilnya sehingga tingkata resikonya tinggi.
Sementara temuan uatama untuk kapasitas yang ditemukan dilapangan sepanjang jalan yang belum memiliki saluran atau darainase ditaruh pelepah kelapa untuk menguranggi agar badan jalan tidak terkikis dan tergerus air, serta untuk menahan air agar tidak masuk kepekarangan masyarakat menaruh karung yang berisi pasir.
Ancaman Utama Longsor Keterpaparan
Kerentanan Utama: Kapasitas Utama: Tingkat Resiko Nilai
Alam:
struktur tanah yang miring berbatu dan labil
gotong royong sangat tinggi 5
Fisik:
jalan berada di atara kebun yang tanahnya labil berbatu dan pasir gotong royong membuat saluran air secara darurat sangat tinggi 5
Ekonomi:
tanaman tertimbun longsor melakukan penanaman kembali sangat tinggi 5
Manusia:
kurangnya pemahaman tentang bencana Terbentuknya TSBD dan Forum PRM
Adanya banjar dan RT
Tinggi 4
Soasial:
kurangnya sosialisasi tentang kebencanaan Terbentuknya TSBD dan Forum PRB
Adanya banjar dan RT
Tinggi 4
Temuan Utama: untuk mengurangi dampak dari longsor masyarakat menaruh pelepah pisang disepanjang jalan serta membuat penahan air dengan mengunakan karung yang berisi pasir
3.2. BANJIR
3.2.1. Karakter Ancaman Banjir
Karakter Penjelasan Elemen Risiko Volume risiko
Asal ancaman
Berasal dari sungai/kali sokong dan tebanyak dan kali selbung
Bertambahnya debit air karna hujan yang bekelamaan SDM
Hanyut
Luka ringan
Penyakit kulit
1 orang
10 arang
Pemicu
Pertemuan anara sungai sokong,tebanyak dan sungai selebung akibat dari luapan air dari sungai sokong
Pembuangan samph oleh masyarakat di sepadan sungai dekat pemukiman
Air dari kebun dan pemukiman melewati gorong2 yang kecil mengakibatnya penambahan air sungai
Adanya pendangkalan dasar sungai FINANSIAL
Lahan Pertanian Terendam
Lahan perkebunan tergenang
Kelapa hanyut
Ternak hanyut
Perabot rumah tangga
45 are tanaman padi (3juta)
3 are tanaman pisang
5000 butir
5 ekor babi dan ayam
Tidak terhitung
Daya rusak
Kuatnya arus air dari sungai
Potong-potongan kayu kebun
Metrial alam FISIK
Jembatan putus
Rumah tergenag
Vihara terendam
SDN tergenag
Tembok pekarangan roboh
Jalan raya tergenang
1 unit
3 unit
1 vihara
SDN 2 Tegal maja
15 Meter
Tanda-tanda
Hujan lebat dan berkepanjangan
Warna air berubah coklat
Dedaunan dan sampah terbawa lebih dahulu SOSIAL
Tergangunya peruses belajar mengajar
Aktivitas dan Silaturahmi masyarakat terganggu
136 siswa dan 14 guru
4 dusun , tenangga, tebanyak, lendang bila dan leong barat
Selawaktu 5 menit
Kecepatan 50 Meter/ 1Menit
Frekuensi ALAM
Lingkungan tercemar
Lahan pertanian
Mata air tercemar
28 are
3 are
12 Mata Air
MA Empok
MA Koloh Pedek
MA Lokok Drian
MA Lokok Pitung
MA Lokok Jorong
MA Kelbut
MA Lokok serait
MA Lokok Bila
MA Baun Pane
MA Puntik
MA Gerek
MA Lokok Kumbak
3.2.2. Kerentanan
Dalam kajian kerentanan untuk setiap bidang, kita akan melihat dari kondisi tidak aman bagi sumber daya manusia serta tekanan dinamis dan akar penyebab dalam kajian ini dapat kita lihat terutma disisi sdm adakondisi tidak aman terutama untuk perempuan sebagian besar perempuan aktipitasnya di rumah, adanya perenganda bagi perempuan, sedangkan untuk para kaum lelaki aktipitasnya disawah dan sawah serta letak sawah dibawah bukit danberdekatan dengan sungai. Tekanan dinamisnya untuk SDM belum adanya kesadaran tentag kelstarianlingkungan, belumoptimalnya sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan, kegiatan berorentasi pada ekonomi, pemahaman tentang bencana masih terbatas begitu pula kesadaran tentang kebencanaan masih kurang,
Kerentanan
Kondisi tak aman Tekanan dinamis Akar penyebab
SDM
Laki
Tempat aktipitas disawah yang lebih tinggi sungai dan di bawah bukit
Perempuan
Kegiatan perempuan hanya dirumah
Perempuan selalu diberikan beban ganda
Belum adanya kesadaran tentang kelestarian lingkungan
Belum optimalnya sosilisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan dilakukan
Kegiatan hanya berorientasi pada ekonomi (kaitan dengan personal )
Pemahaman tentang bencana masih terbatas dimiliki
Kesadaran tentang bencana masih kurang
Sosialisasi tentang tentang jalur evakuasi belum optimal dilakukan
Belum dipasangnya tanda jalur evakuasi
Belum adanya ketrampilan tentang cara menyelamatkan diri dari bencana (tek dinamis )
Belum diketahui dan disosialisasikannya Sistem Peringatan Dini
Belum adanya ketrampilan tentang cara menyelamatkan diri
Pengurus TSBD sering berganti ganti
Belum diketahui dan disosialisasikannya Sistem Peringatan Dini
FINANSIAL
Laki
Hasil pertanian terbawa/terendam banjir
Tanaman disawah yang hampir panen terendam
Perempuan
Berkurangnya pangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga
Tidak adanya tempat penyimpanan hasil kebun dan sawah
Tidak adanya simpanan pangan dan ketersediaan cadangan dana
Tidak adanya lahan tempat membangun gudang penyimpanan
Belum adanya koperasi tani
Hasil penjualan tidak ditabung
Terlalu konsumtif
FISIK
Pemukiman warga lebih rendah dari bibir sunggai dan tempat pertemuan bebrapa aliran air
Letak SDN 2 Tegal Majalebih rendah dari bibir kali sokong
Belum adanya darainase
Perkampungan warga tidak dilengkapi drainase
Perkampungan tidak ada talud pembatas yang memadai
Tata lingkungan perkampungan kumuh
Saluran irigasi mengalami penyempitan dan pendangkalan
Saluran irigasi tidak terpelihara
Perumahan warga tidak sesuai dengan tata ruang bangunan dan lingkungan
Tidak adanya tenaga teknis yang mengerjakan
Pengurus P3A tidak berfungsi
Kesadaran pengurus P3A mulai luntur
Awig-Awig P3A
todak dijalankan
SOSIAL
Laki
Masih terbatasnya kegiatan kebencanaan dilakukan lembaga lembaga desa
Perempuan
Informasi tentang kebencanaan masing kurang memadai
Kegiatan kebencanaan belum menjadi prioritas pembangunan di desa
Sumber informasi tentang kebencanaan masih kurang
Belum terakomodir dalam perencanaan pembangunan di Desa Tegal Maja
Media penyampaian informasi tentang kebencanaan masih terbatas dan belum menjangkau masyarakat di wilayah rawan
ALAM
Sawah berada dibawah bukit
Perkebunan gundul
Hutan gundul
Lahan sawah tidak dilengakapi dengan tanggul
penyempitan saluran irigasi pertanian
Tanggul yang dibuat tidak sesuai dengan luas areal persawahan
Lahan perkebunan hanya ditanami ubi, pisang dan kelapa
Struktur tanah perkebunan gembur,dengan struktur tanah, batu dan pasir
Pengolahan kebun tdak menggunakan sistem Teras Sering
Lahan hutan dirambah untuk perluasan areal kebun
Lahan hutan hanya ditanami tanaman musiman ( Kopi, kakao dan pisang )
Terjadinya perubahan fungsi lahan hutan menjadi kebun
Terjadinya pendangkalan karena masyarakat membuang sampah di kali
Tidak adanya talud penahan longsoran di kali
Bantaran sungai tidak ada pepohonan
Pendanaan pembagunan belum persepktif kebencanaan
P3A Vakum
Awig - Awig P3A tidak berjalan
Tidak adanya Tata ruang desa
Tidak adanya sistem pengelolaan hutan
Tidak adanya awig - awig pengelolaan hutan
penyuluhan tentang Tata pengaturan Pengelolaan Lahan Hutan
Kesadaran masyarakat kurang tentang lingkungan
Belum adanya normalisasi Sungai .
3.2.3. Kapasitas Banjir
Kemampuan menangani ancaman Karakter ancaman Kemampuan
Dibutuhkan Tersedia Kesenjangan
Mencegah Asal Penyebab
Sungai kali sokong dan Tebanyak dan kali Selebung
Bertambahnya debit air
Daya Rusak
Kuatnya arus sungai
Material alam yang terbawa arus Talut penahan banjir
Tinggi ± 3,5 M
Panjang 25 x 35 M
Normalisasi Sungai
Talut penahan banjir
Meminimalisir penebangan kayu disekitar sungai
Penataan dan pemeliharaan hutan
Peralatan manual dari swadaya (gontong royong)
Talut penahan banjir
Tinggi ± 3,5 M
Panjang 25 x 35 M
Normalisasi Sungai
Meminta bibit kayu kepada Dinas terkait sebanyak 250.000 pohon
Frekuensi
1 tahun sekali
Sebaran Dampak
Normalisasi sungai
Pentaludan
Penataan dan pemeliharaan hutan
Pembuatan draenase dipemukiman pingir sungai
Mempersiapkan media informasi tentang adanya jalur evakuasi
Pengalian saluran
Pelebaran draenase
Tata guna lahan
Batu, pasir
Perataran manual (gontong royong) Alat-alat berat
Material toko
Partisifasi Dinas terkait
Asal Penyebab
Frekuensi Reboisasi (1500 Ha)
Pembangunan talud
dipingiran sungai
dekat pemukiman penduduk
Penggalian saluran sungai
Membuang sampah pada tempatnya (Normalisasi)
Rehab talud yang rusak dan menanam kembali pohon pada lahan yang kosong 250 Ha
100 x 2 M 1250 Ha
500m x 2,5m
Perlu dibuatkan TPA
Sebaran dampak
Mitigasi Asal penyebab
Sungai kali sokong dan Tebanyak dan kali Selebung
Bertambahnya debit air
Daya rusak
Kuatnya arus sungai
Material alam yang terbawa arus
Frekuensi
1 tahun sekali
Sebaran dampak
- dusun tebayak
- dusun tenanggga
- dusun lendang bila
Kemampuan menangani kerentanan Kondisi tak aman Kemampuan
Dibutuhkan Tersedia Kesenjangan
Alam Sawah berada dibawah bukit dan lebih rendah dari bantaran kali Tata guna lahan
Penataan dan
pemeliahran hutan 250 ha sudah direboisasi Perdes tata guna lahan
1250 Ha
Fisik Pemukiman lebih rendah dari bantaran kali dan pertemuan beberapa aliran air talud setinggi 3,5 panjang 25x34 M (600M)
darainase
awik-awik 100Mx2M
Alat -alat manual
P3A 500 Mx2,5
Alat-alat berat
Pelaksanaan awik-awik
Perhatian instasi terkait
Ekonomi Hasil pertanian terendam dan terbawa air
Berkurangannya ketersedian pangan Tempat penyimpanan khusus hasil panen
Menyimpan/ menabung sebagian hasil panen Koprasi Membangun gudang
Kesaaran masyarakat untuk menabung
Pelatihan managemen
Manusia Aktipitas di sawah dibawah bukit dan dekat dengan sungai Soialisasi tentang kebencanaan
Tempat pembuangan sampah TSBD
Forum PRB Media informasi
Jalur evakuasi
Alat kebencanaan
Obat-oabatan
TPA
Sosial Budaya Masih terbatasnya kegiatan kebencanaan di alkukan oleh lembaga-lembaga desa
Informasi kebencanaan masih kurang Sosialisasi tentang keberadaan lembaga-lembaga untuk kebencanaan
Keterlibatan perempuan TSBD
Forum PRB Media informasi
Kesempatan mengikuti kegiatan tentang kebencanaan
Pelatihan tentang tanggab darurat
3.2.4 Kajian Tingkat Resiko Bajir
Dari kajian tingkat resiko banir dapat kita lihat dalam table, dengan kerentanan utama dari alam yang ada di desa desa tegal maja Sawah dan pemukiman berada di dekat bataran sungai/sejajar
Sungai berada dibawah kebun dan bukit yang gundul dan struktur tanah gembur dan labil, sedangkan Fisik dari kerentanan utamanya Pemukiaman warga setara dengan bataran sungai sehingga akibatnya dapat mengakibatkan banjir sementara dari Ekonomi cukup memiliki kerentanan masyarakat Tidak menyimpan sebagian hasil panen, di sisi Manusia Kurangnya informasi dan sosialisasi tentang kebencanaan
Kapasitas utama yang ada di desa tegal maja adanya Gotong royong membuat talud 100x2 dikali, penanaman pohon disepanjang bantaran sungai, membangunan pembatas sepanjang 100 M, adanya koprasi, disisi manusia dalam hal sosialbudaya terbenknya TSBD,Forum PRB, serta adanya kentongan dimasing-masing dusun.
Setelah kita lakukan analisa darikerentanan dan kapasitasa peserta menyimpulkan tingkat resikobanir antar sedang dan tinggi.
Ancaman Utama Banjir Keterpaparan
Kerentanan Utama: Kapasitas Utama:
Alam:
Sawah dan pemukiman berada di dekat bataran sungai/sejajar
Sungai berada dibawah kebun dan bukit yang gundul danstruktur tanah gembur dan labil - Gotong royong membuat talud 100x2 dikali
tebanyak
- penanaman pohon dipinggir sungai sedang 4
Fisik:
Pemukiaman warga setara/setara dgn bataran sungai
Talud pembatas sepanjang 100mx2 Sedang 4
Ekonomi:
Tidak menyimpan sebagian hasil panen
Koprasi sedang 4
Manusia:
Kurangnya informasi dan sosialisasi tentang kebencanaan
TSBD
Forum PRB Desa tinggi 5
Soasial:
Terbatasnya kegiatan dan kurangnya sosialisasi bencana TSBD
Forum PRB Desa tinggi
5
Temuan Utama:
BAB. IV RENCANA AKSI
BAB. V. KESIMPULAN
Dokumen hasil kajian atau analisa kebencanaan ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi masyarakat dan pemerintah Desa Tegal Maja dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat terutama dalam upaya Pengurangi Risiko Bencana, sehingga masyarakat dapat terhindar dari dampak bencana.
Tanpa kesadaran juga komitmen dan seperti yang tertuang dalam Undang - Undang Nomor 24 Tahun 2007 bahwa penanggulangan bencana adalah merupakan kewajiban dan dilakukan oleh semua pihak baik pemerintah, masyarakat dan juga dunia usaha.
Alangkah bijaknya bila keselamatan masyarakat dikedepankan atau pengurangan rsiiko bencana dapat terstruktur dalam perencanaan pembangunan desa atau kabupaten, sehingga sehingga Pengurangan risiko bencana menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Menjadi bagian yang sangat penting, dalam Rencana Pembangunan Desa Jangka 5 ( lima ) tahun bisa di implementasikan dalam Rencana Pembangunan desa dan kabupaten setiap tahunnya.
Terlepas dari itu, hasil kajian kebencanaan partisipatif ini dapat diperhatiakan sebagai dasar berpijak dalam upaya bagaimana mengurangi risko bencana menjadi sangat penting, tidak dilihat seberapa kedalamanannya tapi dari semangat yang muncul tentunya hasil kajian bersama oleh masyarakat Desa Tegal Maja ini meski dilakukan dalam waktu 5 ( lima ) hari dapat menjadi dokumen desa untuk bahan perencanaan pembangunan yang berperspektif Perubahan Iklim dan kebencanaan.
Mudah-mudahan dokumen ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan Pemerintahan Desa Tegal Maja.
Tegal Maja, 12 Desember 2012
CF Kecamatan Pemenang
= ASAMADI MEDO =
Mengetahui :
1. Kepala Desa Tegal Maja 2. BPD Desa Tegal Maja
LAMPIRAN
Alat PRA
AKTIVITAS HARIAN
Sebagai masyarakat yang sebagaian besar adalah merupakan petani buruh tani dan nelayan, aktivitas masyarakatnya lebih banyak berada di kebun dan sawah, sedangkan kaum perempuan banyak membantu suami melakukan kegiatan bertani disawah dan dikebun atau ladang, selain melakukan aktivitas rumah tangga lainnya, kegiatan ini merupakan gambaran kegiatan keseharian dari masyarakat yang ada di Desa Tegal Maja, seperti bisa dilihat pada tabel dibawah ini :
Kegiatan
Jam bapak kantoran bapak petani/buruh ibu kantoran ibu petani/buruh anak
04.30-05.30 bangun tidur, cuci muka bangun tidur, cuci muka bangun tidur, cuci muka bangun tidur, cuci muka sholat (muslim)
ngudu' , sholat subuh (muslim) ngudu' , sholat subuh (muslim) ngudu' , sholat subuh (muslim) ngudu' , sholat subuh (muslim) masih tidur (non muslim)
masih tidur (non muslim) masih tidur (non muslim) masih tidur (non muslim) masih tidur (non muslim) masih tidur (non muslim)
06.00-06.30 bangun tidur, cuci muka, ngopi bangun tidur, cuci muka, ngopi bangun tidur, cuci muka, membersikan rumah bangun tidur, cuci muka, membersihkan rumah bangun tidur
07.00 bersiap-siap masuk kantor bersiap-siap berangkat kerja memasak, dan menyiapkan sarpan mencari sayur mayur dan lauk pauk Mandi
(sawah, kebun, ngojek, dagang)
07.30-08.30 Sarapan berangkat bekerja ( sawah, sarapan memasak, dan menyiapkan sarpan masuk sekolah
berangakat kekantor kebun, ngojek, dagang) berangkat kekantor sebagian kerja untuk menambah penghasilan
09.00 beraktivitas dikantor pulang makan beraktivitas dikantor kekali belajar disekolah
10.00 beraktivitas dikantor berangkat kerja lagi beraktivitas dikantor pulang dari kali istirahat di sekolah
11.00 beraktivitas dikantor masih bekerja beraktivitas dikantor memasak untuk makan siang belajar disekolah
12.00 sholat (muslim) pulang kerja, mandi, sholat, sholat (muslim) sholat (muslim) pulang sekolah, makan
istirahat (non muslim) istirahat (non muslim) istirahat (non muslim)
13.00 Makan istirahat dirumah, sambil Makan istirahat dirumah, sambil istirahat/tidur siang
ngobrol-ngobrol dgn keluarga ngobrol-ngobrol dgn keluarga
14.00 pulang kerja makan bersama keluarga pulang kerja makan bersama keluarga istirahat/tidur siang
15.00 Istirahat pergi kerja istirahat membantu suami disawah, kebun dagang, dll bermain-main
(sawah, kebun, ngojek, dagang)
15.30 sholat (muslim) sholat (muslim) sholat (muslim) sholat (muslim) sholat (muslim)
istirahat (non muslim) istirahat (non muslim) istirahat (non muslim) istirahat (non muslim) istirahat (non muslim)
16.00 ngopi sambil ngobrol-ngobrol mencari rumput ngopi sambil ngobrol-ngobrol mencari rumput, kayu bakar,membawakan bermain-main
sama tetangga sama tetangga kopi kekebun
16.30 pergi olahraga pulang dari kebun sambil mencari sayur mayur dan lauk pauk untuk malam pulang dari kerja mencari sayur mayur dan masih main-main
membawa ternaknya kekandang lauk pauk
mengambil nira aren
membawa pulang dagangan
17.00 masih olahraga masih istirahat memasak, dan menyiapkan makan malam memasak, dan menyiapkan makan malam Mandi
18.00 Mandi Mandi Mandi mandi Makan
18.30 sholat (muslim) sholat (muslim) sholat (muslim) sholat (muslim) sholat , pergi ngaji (muslim)
sembahyang (non muslim) sembahyang (non muslim) sembahyang (non muslim) sembahyang (non muslim) sembahyang (non muslim)
19.00 makan malam makan malam makan malam makan malam makan malam
20.00-21.30 nonton, sebagian ada yg minum nonton, sebagian ada yg minum nonton, ngobrol dgn suami nonton, ngobrol dgn suami belajar, nonton
22.00 tidur malam, dan membicarakan tidur malam, dan membicarakan tidur malam, dan membicarakan tidur malam, dan membicarakan tidur malam
masa depan masa depan masa depan masa depan
KALENDER MUSIM
Sebagai sebuah desa yang menggantungkan hidup pada areal perkebunan dan pertanian sawah irigasi tekhnis, masyarakat Desa Tegal Maja mengelola lahan pertanian dan perkebunan dengan secara tradisional, lahan perkebunan hampir sebagaian besar ditanami dengan tanaman perkebunan sepeeti kelapa, Mente, Kopi dan kakao sedangkan lahan persawahan ditanami dengan tanaman padi dan jenis palawija seperti jagung, ledelai dan kacang tanah, dilahan perkebunan tanaman kacang , tanaman tanaman ini dilihat dari ketersediaan air yang ada dan bersumber dari Kali Buruan.
Karena mengandalkan air irigasi maka pertanian dilakukan pada 2 ( dua ) musim yaitu musim penghujan dan musim panas,diantaran tanaman yang ditanam pada musim penghujan diantaranya ; tanaman padi dan pada musin panas masyarakat melakukan aktivitas di areal perkebunan dengan melakukan kegitan penggemburan tanah dengan di bajak.
Dalam pengelolaan sumberdaya pertaanian dan perkebunan masyarakatnya masih mengelola lahan dengan alat yang sederhana dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia, pengelolaan disesuaikan dengan musim panas dan musim hujan sehingga aktivitas pertanian musim panas lebih berorientasi pada menggarap lahan untuk tanaman pertanian lahan kering sedangkan untuk perkebunan lahan basah selain ditanami dengan kopi , coklat, kelapa dan mente. Pembagian tugas laki dan perempuan ndalam pengelolaan kebun dan sawah hampir berimbang, baik pada saat penyemaian bibit, penanaman dan pada saat panen.
Masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa Tegal Maja pada musim hujan yang curahnya cukup tinggi dan bergeser waktu turunnya, tanaman banyak mengalami kerusakan baik busuk batang dan gugurnya bunga tanaman,hal lain adalah bagi masyarakat yang menggantungkan hidup sebagai nelayan, ketika pada bulan Desember,januari dan Pebruari menjadi sulit untuk melaut karena adanya angin dan gelombang besar.
Musim Aktifitas Waktu
Laki2 Perempuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Hujan Pembibitan
Membuat lubang untuk tanaman
Mengemburkan tanah kebun
Melakukan pemupukan
Membuat makanan ringan
Membersihakn selokan atau lubang air
Membuat anyaman bambu
Kemarau Ngojek
Mengajar bagi yang jadi guru
Ke kantor dengan aktif Cari rumput dan mengambil air k kali
Beraktifitas di luar rumah
Barat Membersihakan saluran air disekitar rumah
Mengontrol kebun
Memperbaiki tanah dan tanaman yang rusak Aktifitas didalam rumah
Panca roba Menjaga kebersihan sekitar lingkungan pekarangan Menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit (malaria dan penyakit kulit)
Tanam Menanam di kebun dan di sawah
Padi
Kacang
Coklat
Pisang
Mahuni
Magalena
Mangga
Kelapa
Cengkeh dll Penyemaian bibit
Panen Memasarkan hasil panen Membantu mengurus hasil panen
Musrenbangdes Musdus
Menggali gagasan dan potensi dalam perencanaan
pembangunan Menjadi perserta
DIAGRAM VENN
Kelembagaan di Desa Tegal Maja merupakan kelembagaan yang bergerak dalam berbagai bidang dan tersebar dalam masyarakat, kelembagaan yang adapun mencirikan pada kegiatan yang dilakukan dan memilki struktur organisasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat di Desa Tegal Maja.
Lembaga lembaga desa yang dibentuk sebagai bagian dari struktur pemerintahan desa dibentuk untuk membantu tugas tugas pemerintahan sebagai mitra dari pemerintah desa dalam menjalankan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat dan juga lembaga tekhnis seperti Pekasih, PKK , Kader Pos Yandu sedangkan lembaga lembaga yang dibentuk oleh masyarakat adalah lembaga lembaga yang bergerak dibidang sosial budaya, seperti terlihat dibawah ini lembaga lembaga yang ada di Desa Tegal Maja, sementara itu komposisi perempuan dalam kelembagaan desa terutama dalam lembaga strategis desa masih belum memadai kalau dilihat dari komposisi jumlah laki dan perempuan, kalau dilihat dari program tentang kebencanaan , lembaga lembaga yang ada di desa belum memiliki kegiatan yang terkait langsung dengan upaya pengurangan risiko bencan
Lembaga-lembaga yang ada di tegal maja
KOMPOSISI LAKI PEREMPUAN
LEMBAGA/ORGANISASI KOPOSISI L/P KETERANGAN
LAKI PEREMPUAN
PEMDES 2 2
BPD 11 -
WANDANI - 40
LPMD 16 -
PKK - 20
POSYANDU 16 36
BANJAR 29 Se Desa Tegal Maja
GAPOKTAN 14 Se Desa Tegal Maja
KARANG TARUNA
TSBD 12 10 Anggota tersebar di sepuluh dusun
FORUM PRB 7 14
KOPRASI
YAYASAN
REMAJA MASJD
MUDA MUDI
P3A
BUMDES 1 3
KADER POSYANDU 33 11
POLINDES 1
PUSTU 1
Untuk melihat hubungan atau pola hubungan satu sama lain serta fungsi dari masing-masing lembag atau organisasi yang ada di desa tegal maja, dapat kita lihat dala dabel dibawah ini.
POLA HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA
Lembaga lembaga sebgai penyusun serta yang membuat regulasi serta kebijakan ditingkat desa dan dusun Pemdes
BPD
Kadus
RT
Yang meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat Bumdes LKM
Koprasi SP
PNPM Mpd
Kaitan dengan kebencanaan TSBD
Forum PRB
Desa Siga
Polindes
Postu
Posyandu
Peningkatan kapasitas masyarakat serta mendekatkan hubungan emosional LPMD
Yayasan
Remaja masjid
Muda mudi Budhis
Banjar
Yangkonsen membicarakan peningkatan pertanian Gapoktan
P3A
Kelompok Tani
KBR
GAMBAR DIAGRAM VENN
Keterangan
Besar kecilnya lingkaran menunjukkan besarnya kedudukan lembaga di masyarakat
Jauh dekatnya lingkaran menunjukkan dekatnya dan pengaruh lembaga dimasyarakat
Jumlah komposisi laki perempuan dalam lembaga lembaga di Desa Tegal Maja
Sedangkan berdasarkan irisan pada diagram menunjukkan pola relasi pada kegiatan yang dilakukan oleh masing masing lembaga desa yang ada, dari diskusi yang dilakukan belum adanya kegiatan disetiap lembaga yang ada melakukan kegiatan Pengurangan Risiko Bencana, dan belum adanya perencanaan yang berperspektif Pengurangan Risiko dalam perencanaan pembangunan desa , sehingga kalau dilihat dari fungsi dan tugas dari ada beberapa lembaga yang memilki keterkaitan dengan kebencanaan meski dalam pelaksanaannya belum maksimal dilakukan seperti :
TSBD Tegal Maja
Forum PRB
Desa Siaga
Puskesmas
Pos yandu
MATA PENCAHARIAN
Pemcaharian masyarakat Desa Tegal Maja sebagaian besar sebagai petani ,dan sebagai pencaharian utama dan sebagaian lagi menjadi buruh tani , sebagai petani tentunya pencaharian petani adalah sebagai yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan lebih besar dan baik, kalau dilihat dari luas lahan pertanian persawahan maka hasil pertaniannya disamping dijual kepada pembeli, sebagaian lagi disimpan untuk kebutuhan makanan sehari hari, sedangkan petani kebun sebagaian menggarap lahan kebun dengan sistem perladangan meski tidak dilakukan secara berpindah, bibit tanaman banyak yang dibeli dan juga memamng dipersiapkan oleh petani, hasil pertanian sebagaian besar dipasarkan melalui pengepul yang langsung datang kepetani,
Dalam mengelola lahan pertanian dan perkebunan peran dan tugas laki disesuaikan dengan kondisi, tetapi peran laki dan perempuan hampir berimbang.
Kegiatan
Matapencaharian Proses
Input Peran pelaku Biaya Hasil Pemasaran Masalah Cara
pengatasi
Laki2 Perempua
Petani sawah
Padi Pembibitan
Olah tanah
Pengairan
Penanaman
Penyiangan
Pemupukan/perawatan
Panen Membeli bibit,penaburan benih dan mengairi benih
Mencari tukang bajak serta mengawasi pembanjak kemudian memperbaikai pematang sawah dan lahan yang akan ditanami
Mencari pekasih untuk mendapatkan jadwal pembagian air
Mencari tenaga untuk menanam bibit (melong) membawa bibit (bulih) keareal tanam dan mengawasi pekerja
Mencari tenaga untuk membersihkan sawah yang sudah ditanami
Membeli pupuk dan obat serta melakukan pemupukan dan penyemprotan Membawa bibit dan bekal suami
Membawa bekal
Membawa bekal dan membantu pembibitan
Membantu menaburkan benih
Membawa bekal dan membersihakan gulma
Membawa bekal dan ikut membantu pemupukan 85000/pis (20 are)
15000 pertahun (20 are)
25000x6/tahun (20are)
35000/hari x 6 orang
600000+300000x3
Total 1.948.000x2 =3.896.000 1 ton/20
4.320.000x2 =8.640.000 hasil kotor dikuranggi biaya 3.896.000 =4.744.000/tahun 20 are Kepengepul atau saudagar gabah
Sebagian panen sendiri Pada saat musimkemarau sulit mendapatkan air
Asupan air kurang
Sering terlamabat melakukan pemupukan dan penyemprotan
Bnanyaknya hama pada musimpenghujan
Tanaman padi sering tumbang karna hujan lebat
Harga jual rendah
Pemasaran sulit Mengatur jadwal pengairan kembali dengan pekasih
Membuka saluran pembuangan air
Menyulam kembali tanamanyang tumbang
Kacang bibit
menyiapkan lahan
tanam
penyiangan
perawatan
pemupukan
panen membeli bibit dan membawa ke lahan
memperbaiki atau menyiapakan lahan
mencari tukang tanam dan mengawasi
mengairi
memupuk dan merawat
mencari saudagar atau pembeli menjelang panen menyipakan bekala kemudaian mengantarkan ke sawah bibit 18000x40 kg=720000/20are
pemebersihan lahan 2500x20are = 50000
pengairan 25000x4=100000
tanam 15000/arex20=300000
penyianan 35000x6=210000
pemupukanpenyemprotan 125000x4 =500000
total 1.880.000 hasil 6.500.000-1.880.000=4.620.000 saudagar atau pengepul kwalitas bibit kutrng baik petumbuh tidak maksimal
terjadi penjamuran didalam batang
terserang hama
curah hujan tinggi
harga kacang menurun
Pemilihan bibit unggulan
Menanam bibi kajang baru
Penyemprotan hama
Tanaman perkebunan
Kelapa pembibitan
penanaman
pemupukan perawatan menyiapak lubang
membeli bibit
merawat Membantu dan meyiapakan makanan 50 pohonx2000=100000
Perawatan 600000 3600000-1420000=2128000 Harga tidak menentu
Kwalitas kurang baik
Terserang hama Pemupukan
Penyemprotan hama
Choklat pembibitan
penanaman
pemupukan
perawatan menyiapak lubang
membeli bibit
merawat Membantu dan meyiapakan makanan Bibit 25x3000=150000
Pemupukaman dan perawatan 100000/bln x 12 =1200000 15kgx17500=262500x12=3150000-1350000=1800000
Mente pembibitan
penanaman
pemupukan
perawatan menyiapak lubang
membeli bibit
merawat Membantu dan meyiapakan makanan Bibit 25 phnx1000=25000
Perawatan 150000
Biaya panen 75000 Hasil panen 1200000-
BKP (BAGAN KECENDRUNGAN PERUBAHAN)
Gambar situasi lahan
kebun dan gunung (TRANSEK)
TAHUN 1970
penduduk sangat kecil/sedikit,
rumah penduduk sedikit, berjauhan
1 KK menunggu lahan sendiri, mata
pencaharian bertani dan menggunakan
kuda.hutan masih rimbun. Petani ubi dan papan
TAHUN 1980
perubahan sumber daya alam, pola pikir masyarakat
sudah berubah, tanaman kayu diganti kelapa, kopi
cengkeh, coklat,penduduk sudah lumayan banyak
TAHUN 1990
kayu-kayu sudah ditebang dan bisnis yang sifatnya
ilegal, penduduk sedikit padat, sudah terjadi banjir
dan erosi
TAHUN 2000
penduduk padat dan kayu-kayu sudah banyak
yang ditebang, hutan menjadi lahan produktif,
TAHUN 2010
penduduk padat dan hutan sudah menjadi
lahan produktif, tanaman kakau, mata pencaharian
sudah bermacam-macam, terjadi ilegal loging
ASPEK 1970 1980 1990 2000 2010
Kepemilikan Ternak 000 000 0000 00000 00000
Kepemilian lahan perekbunan 00 000 0000 00000 00000
Kepemilian lahan sawah 00 000 00 00 0
Penglolaan hutan 0 0 00 000 0000
Illegal loging - - 0 00 00
Suhu 00 00 000 000 0000
Curah hujan 00000 00000 00000 0000 000
Mata air 00000 00000 0000 00 00
Debit air 00000 00000 0000 000 00
Bagan kecendrungan perubahan sumberdaya manusia
JUMLAH PENDUDUK 1970 1980 1990 2000 2010
Laki-laki 0 00 000 000 0000
Perempuan 00 000 0000 0000 00000
PENDIDIKAN
Laki-laki 000 0000 0000 0000 0000
Perempuan 0 00 000 000 0000
TINGKAT KESEJAHTRAAN
Kaya 0 0 00 00 000
Miakin 000 000 0000 00000 00000
KETERANGAN METRIK
KEPEMILIKAN TERNAK
TAHUN 1970-1980 :
Masih bersipat tradisional Bersifat tabungan Didomain oleh orang kaya
TAHUN 1990
Cara Pemeliharaanya Lebih Maju Dari Tahun Sebelumnya
TAHUN 2000-2010
Kepemilikan ternak merata disetiap tempat
Pemeliharaan mulai bersifat moderen
Sudah mengenal seminasi buatan (1b)
Sudah ada kelompok ternak
Sudah bersifat bisnis
KEPEMILIKAN LAHAN KEBUN
Tahun 1970
Jumlah Penduduk Sedikit Kepemilikan Lahan Dimiliki Oleh Beberapa Orang Saja
Tahun 1980
seiring dengan bertamahnya penduduk maka kepemilikan lahan kebun bertambah karana jual beli dan pembagian warisan
Tahun 1990
Sama Penjelasan Dengan Tahun 1980
Tahun 2000-2010
Kepemilikan lahan kebun bertambah dengan luas bertambah disebabkan oleh perambahan hutan jadi kebun Kepemilikan lahan sawah
Tahun 1970-1980
Banak memiliki lahan sawah tadah hujan
Belum mengenal cocok tanam modern
Tahun 1990-2000
Sudah dengan bercocok tanam moderen sawah tadah hujan berubah jadi perkebunan
Kepemilikan sawah berkurang
Tahun 2010
Lahan sawah berkurang berubah fungsi
Digunakan jadi pemukiman
Dijadikan lahan kebun
CURAH HUJAN
Tahun 1970-1980
Masih normal
Hutan masih normal
Tahun 2000
Curh Hujan Berkurang
Hujan Berkurang Bemukiman Bertambah
Tahun 2010
Curah hujan idak normal
Hutan jadi kebun
Penduduk padat
Mata air
Tahun 1970-1980
Masih Normal
Tahun 1990
MATA AIR BERKURANG
HUTAN MULAI JARANG
Tahun 2000-2010
MATA AIR MATI
MATA AIR MUNCUL PADA SAAT MUSIM HUJAN
DEBIT AIR
Tahun 1970-1980
Masih Normal
Hutan Utuh
Tahun 1990
Mulai berkurang
Tanaman /pohon berkurang
Banyaknya tanaman pisang,kakao,kopi dll
Tahun 2000-2010
Menurun sebelum musim hujan
Normal pada saat musim hujan
Penglolaan hutan
Tahun 1970-1980
Beluma ada masyarakat yang masuk hutan
Hutan tidak dijamah manusia kebutuhan makan cukup
Belum mengenal pemasaran hasil produksi
Tahun 1990-2010
HUTAN MULAI DIMASUKI
LUAS UTAN BERKURANG
SURAT IJIN PENEBANGAN DI TERBITKAN DINAS TERKAIT
ILEGAL LOGING
Tahun 1970-1980
Belum Ada
Tahun 1990
Penebgana Pohon Dengan Tradisional
Tahun 2000-2010
Perambahaan Hutan/Penebangan Dengan Alat Moderen
Mengunakan Izin Penebangan Kayu Kebun Tapi Penebangan Di Kawas Hutan
SUHU
Tahun 1970-1980
Cukup Dingin Masarakat Mengunakan Selimut Dari Pagi Sampai Sore
Tahun 1990-2000
Adanya Perubahan Suhu Yang Dingin Mulai Panas
Tahun 2010
Malam Hari Panas Terasa
BAGAN KECENDRUNGAN PERUBAHAN SUMBER DAYA MANUSIA
JUMLAH PENDUDUK
LAKI-LAKI
Tahun 1970
Laki-laki lebih sedikit dari perempuan
Pertumbuhan tidak terlalu banyak
Tahun 1980
Mengalami peningkatan
Kelahiran meningkat
Tahun 1990-2000
Pertumbuahn Rata-Rata Disetiap Wilayah
Tahun 2010
Hampir Sebanding Dengan Perempuan
PEREMPUAN
Tahun 1970
Lebih Banyak Dari Laki-Laki
Kelahiran Lebih Banyak Dari Laki-Laki
Tahun 1980-2010
Mengalami Peningkatan Dari Tahun Ke Tahun
PENDIDIKAN
LAKI-LAKI
TAHUN 1970-1980
Didominasi Oleh Laki-Laki
TAHUN 1990-2010
Pertumbuhan Rata-Rata Disetiap Wilayah
PEREMPUAN
TAHUN 1970
Pendidikan Perempuan Sangat Kurang
1980-2010
Mengalami peningkatan setiap tahun
Hampir sama dengan lai-laki
TINGKAT KESEJAHTRAAN
KAYA
Tahun 1970-1980
Beberapa Orang Kaya
TAHUN 1990-2010
Perubahan ekonomi meningkat setiap tahun
Orang kaya bertambah
MISKIN
Tahun 1970-1980
Rata-Rata Miskin
Tahun 1990-2010
Jumlah pengangguran bertambah
Kurang lapangan pekerjaan
Data-data
TSBD
Proses (Foto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Masukan Dan Saran Anda Sangat kami Butuhkan Guna Perbaikan Kedepan